Tania Motorsport di Superstars SportsCar Series (SSS) Mandalika 2026: Ketika Ban Meledak, Tapi Harapan Tetap Menyala
Ada akhir pekan yang datang membawa hasil. Ada juga akhir pekan yang datang membawa ujian. Bagi Tania Motorsport, Superstars SportsCar Series (SSS) Mandalika 2026 terasa seperti yang kedua. Mereka tiba di Mandalika dengan harapan besar, membawa Aditya Tania dan Porsche GT4 mereka untuk bertarung di kelas GT4. Tidak berlebihan kalau dikatakan mereka datang dengan mimpi yang sederhana tapi berat: tampil cepat, tetap utuh, lalu pulang dengan sesuatu yang layak dikenang. Tapi Mandalika, seperti yang sering terjadi, tidak pernah memberi jalan yang benar-benar mudah. Sejak hari pertama, cerita ini sudah bergerak ke arah yang tidak biasa. Bukan karena satu kesalahan besar, melainkan karena masalah kecil yang datang terus-menerus, lalu perlahan menguji ketahanan sebuah tim dari dalam.
Saat Jumat Membuka Bab yang Berat
Sesi official practice pada Jumat, 1 Mei 2026, menjadi titik awal dari weekend yang tidak ringan. Secara normal, latihan resmi adalah ruang untuk mencari rasa, membaca karakter mobil, dan menyusun langkah menuju kualifikasi. Tapi bagi Tania Motorsport, sesi ini justru langsung memperlihatkan masalah yang paling menentukan: ban Michelin yang wajib digunakan tidak memberi rasa percaya yang mereka cari. Grip terasa berubah-ubah. Temperatur tidak mudah dijaga. Ban seperti belum mau bekerja sesuai keinginan. Dalam dunia balap, ban yang tidak bisa dipercaya bisa mengacaukan semuanya — dari rasa pembalap, arah setup, sampai keberanian untuk menekan lebih jauh. Di garage, tim bekerja tanpa banyak suara. Setup diperiksa lagi. Tekanan ban dicoba ulang. Data dibaca berulang kali. Semua dilakukan dengan sabar, tapi jawabannya belum datang juga. Dan di situlah weekend ini mulai terasa panjang.

Sabtu Pagi yang Mengajarkan Cara Bertahan
Saat Kualifikasi 1 dimulai pada Sabtu pagi, Tania Motorsport memilih pendekatan yang paling masuk akal: main aman.
Mereka belum menemukan solusi yang pas untuk ban, jadi memaksa mobil keluar dari batasnya justru akan membuka risiko yang tidak perlu. Aditya Tania pun membukukan waktu di kisaran 1:50, jauh dari target ideal 1:40. Kalau hanya dilihat dari angka, hasil itu mungkin tidak terdengar istimewa. Tapi kalau melihat apa yang terjadi sejak Jumat, waktu itu punya arti yang lebih dalam. Itu bukan tanda kurang ambisi. Itu tanda bahwa tim memahami situasi dan memilih jalan yang paling bijak: bertahan dulu, lalu menunggu momen yang tepat untuk menyerang. Kadang di motorsport, keputusan paling kuat justru bukan yang paling agresif. Kadang, yang paling kuat adalah yang paling tenang.

Sabtu Sore yang Hampir Memberi Jawaban
Lalu datang Kualifikasi 2. Di sesi ini, Aditya mulai berani menekan lebih dalam. Ia push, ia cari waktu, dan catatan lap turun ke sekitar 1:45. Untuk sesaat, terasa seperti Tania Motorsport mulai menemukan arah yang mereka cari sejak awal weekend. Namun Mandalika masih punya satu pukulan lagi. Di tengah usaha itu, ban mobil meledak.
Dalam satu momen, semua yang sedang dibangun langsung terputus. Ritme hilang. Keyakinan terguncang. Dan harapan yang tadi sempat naik lagi harus kembali menelan kenyataan yang pahit.
Bagi siapa pun di motorsport, itu adalah momen yang sulit. Karena rasanya tidak adil: kamu sudah mulai dekat ke solusi, tapi masalah datang lagi di detik yang paling tidak tepat. Tapi Tania Motorsport tidak berhenti di sana. Mereka tetap berdiri.
Minggu Pagi yang Mengubah Arah Cerita
Setelah dua hari yang penuh tekanan, Minggu datang membawa kesempatan baru. Dan di Race 1, Tania Motorsport mulai menunjukkan sisi paling indah dari sebuah perjuangan: kesabaran yang berubah menjadi hasil. Aditya Tania membalap dengan kepala yang lebih tenang. Ia tidak hanya mengejar lawan di depannya, tetapi juga membaca perlombaan dengan sabar. Di kategori M2, ada battle antara Wish Motorsport dan Rizqy Motorsport di depan, dan Aditya membayangi pertarungan itu dengan disiplin, menunggu momen yang tepat untuk tetap berada di permainan. Dan hasilnya sangat pantas dirayakan. Aditya finis P5 overall, tetapi berhasil mengamankan P1 di kategori GT4. Itu bukan kemenangan yang lahir dari jalan yang mulus. Itu kemenangan yang lahir dari hari-hari yang berat, dari keputusan untuk tidak panik, dan dari keberanian untuk tetap fokus ketika keadaan tidak benar-benar berpihak. Race 1 akhirnya menjadi jawaban atas semua kesabaran itu.

Minggu Sore yang Penuh Duel dan Nyali
Kalau Race 1 adalah tentang ketenangan, maka Race 2 adalah tentang keberanian. Aditya Tania kembali turun ke lintasan dan langsung masuk ke battle yang lebih keras. Lawannya kali ini adalah BMW M2 Dewa United, mobil dengan tenaga sekitar 600 HP, sementara Porsche GT4 Tania Motorsport bermain di sekitar 500 HP. Secara hitungan kasar, itu bukan pertarungan yang seimbang. Tapi motorsport tidak selalu tunduk pada angka. Porsche yang lebih ringan dan lincah berhadapan dengan BMW yang lebih bertenaga. Saling salip. Saling tahan. Saling menekan. Aditya bahkan sempat membidik P3 overall. Untuk beberapa lap, peluang itu benar-benar hidup. Dan saat itu terjadi, kita melihat inti dari cerita ini: seorang pembalap yang menolak menyerah meski lawannya lebih kuat di atas kertas. Lalu datang lap 9 dari 10. Ban GT4 meledak lagi.
Sekali lagi, akhir pekan ini dihantam masalah yang sama. Tapi kali ini Tania Motorsport tidak memilih berhenti di tengah. Mereka masuk pit, mengganti ban baru, lalu kembali melanjutkan sampai finish. Dan justru di situlah letak heroiknya. Karena di motorsport, tidak semua cerita indah lahir dari race yang bersih. Kadang cerita paling indah justru lahir dari tim yang berkali-kali jatuh, tapi tetap kembali berdiri.
Mereka yang Bekerja di Balik Layar
Cerita Tania Motorsport di Superstars SportsCar Series (SSS) Mandalika 2026 bukan cuma tentang Aditya Tania. Ini juga tentang tim yang bekerja jauh dari kamera. Tentang mekanik yang terus mengutak-atik mobil. Tentang engineer yang membaca data sampai larut. Tentang garage yang tetap hidup meski masalah ban datang berkali-kali.
Dan karena itu, apresiasi patut diberikan kepada pihak-pihak yang membuat event ini bisa berjalan sebagaimana mestinya.
MGPA sebagai pengelola Sirkuit Mandalika layak diapresiasi karena menghadirkan venue yang menjadi panggung penting bagi motorsport nasional. Superstars Motorsport sebagai promotor dan penyelenggara juga pantas diberi kredit karena berhasil menghadirkan event yang kompetitif, tertata, dan penuh energi.
Dukungan sponsor pun sangat berarti: Engine+ sebagai official race partner, lalu LiquiMoly, O.W.L, Momo, DC Padel, dan Maxdecal sebagai brand partner yang ikut membangun identitas dan energi event ini. Dalam dunia balap, sponsor bukan sekadar logo. Mereka adalah bagian dari alasan kenapa sebuah kompetisi bisa terus hidup dan tumbuh.
Nama Mas Luckas Dwinanda juga layak mendapat perhatian khusus. Sebagai head engineer pada weekend ini, owner Engine+, dan pembalap berpengalaman yang sudah beberapa kali memenangkan kompetisi balap, termasuk dengan Porsche 911 GT3, kehadirannya memberi bobot teknis dan kredibilitas yang besar. Sosok seperti ini sering tidak muncul paling depan, tetapi justru sering menjadi fondasi yang membuat sebuah tim tetap kokoh saat keadaan mulai sulit.
Mandalika dan Arti Tetap Melaju
Mandalika selalu punya reputasi sebagai lintasan yang keras. Ia menuntut kesabaran dari mobil, keberanian dari pembalap, dan ketahanan dari seluruh tim. Dalam konteks itu, apa yang dialami Tania Motorsport terasa sangat manusiawi: ada harapan, ada kegelisahan, ada usaha, lalu ada hasil yang akhirnya terasa lebih indah karena harus diperjuangkan begitu jauh.
Mereka datang membawa masalah ban. Mereka menjalani kualifikasi dengan penuh kehati-hatian. Mereka sempat dihantam ledakan ban di momen paling penting. Namun pada akhirnya, mereka tetap membawa pulang sesuatu yang layak dikenang.
Karena pada akhirnya, Tania Motorsport di Superstars SportsCar Series (SSS) Mandalika 2026 bukan hanya cerita tentang ban yang meledak. Ini adalah cerita tentang tim yang tetap memilih melawan. Tentang pembalap yang tetap menekan meski dibawah tekanan. Tentang weekend yang semula terasa seperti luka, lalu berubah menjadi kisah yang indah di garis akhir.
← Back to News