REVIEW

Ferrari Luce: Saat Ferrarites Harus Berdamai dengan Diamnya Mesin EV

By Tania Motorsport • 2026-05-26 • 5 min read
Ferrari Luce: Saat Ferrarites Harus Berdamai dengan Diamnya Mesin EV
Ferrari Luce, Ferrari Mobil Listrik Pertama

Ada dua suara yang dikenal sepanjang sejarah Ferrari:
suara V12 yang mendendangkan lagu di belakang telinga,
dan kali ini, sebuah suara baru: Luce—yang diam, tapi tetap sangat menantang.

Tanggal 25 Mei 2026, di tengah sorotan di Roma, bukan Maranello, Ferrari meluncurkan Luce—bukan sekadar model, tapi mobil listrik pertama dalam sejarah 78 tahun perjalanan pabrikan asal Italia tersebut. Bukan prototipe, bukan demonstrator, bukan kendaraan test diajarkan ke khalayak—Luce adalah Big Bang Renaissance di zaman EV yang siap membuat banyak purist mengerutkan dahi… lalu tanpa sadar jatuh cinta.

Luce: Bukan Supercar dan Bukan Sport Sedan “Biasa”

Kalau yang kamu bayangkan adalah mobil sport dua pintu dengan garis tajam, Luce akan mengejutkan.
Ia adalah grand tourer listrik 4‑pintu, dengan desain liftback yang lebih dekat ke sedan mewah panjang daripada mobil sport pendek. Panjangnya sekitar 5 meter, stance lebar, kaki-kaki mengapit jalanan dengan percaya diri, dan depannya tetap agresif—meski knalpot tidak perlu lagi berteriak.

Desain eksterior Ferrari Luce juga terasa “aneh” untuk Ferrari.

Ini desain yang terasa “lain dari biasa”, bukan hanya minimalis, tapi seperti seluruh mobil berkaca dan terus bergerak tanpa perlu jeda.

Arsitektur Listrik: Jantung Elektronik di Bawah Karbon “Maranello”

Ferrari Luce bukan “ICE horse sekarang pake baterai”.
Di bawahnya, ada arsitektur listrik 880 V dengan baterai 122 kWh yang dirancang langsung di Maranello, bukan booster powertrain dari pabrikan lain. Teknologi ini ditarik dari latar belakang hypercar F80 dan platform F1—garis keturunan yang cukup sakral bagi Ferrari.

Struktur baterai Luce juga jadi bagian dari chassis:

Mobil ini diklaim mampu:

Dengan 48 V active suspension, four‑wheel steering, dan torque vectoring di setiap roda, Luce tetap terasa ringan, responsif, dan seolah punya “soul” lebih besar dari berat yang sebenarnya.

Interior: Teknologi yang Masih Mau Dipegang Jarimu

Masuk ke kabin, kamu tidak langsung dikelilingi panel layar digital seperti mall futuristik.
Ferrari tetap memegang filosofi “material first”. Luce diisi dengan:

Gear selector berbahan kaca jadi “piranti seni” di tengah konsol—kombinasi antara inovasi dan kontras: keras di luar, halus di dalam, seperti logam dan kristal yang berpadu dalam satu tarikan napas.
Ini bukan kabin yang ingin terlihat royal, melainkan kabin yang ingin kamu merasakan setiap jengkal, bukan hanya menekan ikon.

Emosi Berkendara: Saat Kuda Listrik Menggantikan Kuda Api

Sebagai mobil listrik pertama Ferrari, Luce punya tugas berat: tetap membuat pengemudi merasa seperti di balik kemudi Ferrari, bukan robot EV.
Namun arsitektur listriknya justru membantu emosi itu, bukan menghancurkannya.

Di tikungan berkecepatan tinggi, kombinasi 4WD, torque vectoring, dan suspension aktif membuat Luce terasa seperti mobil yang tidak mengerti kata “berat”—tapi tetap memberimu cukup ruang untuk merasakan border limit, bukan hanya merasakan “everything is glued”.

Spesifikasi yang Tetap “Ferrari” di Angka

Berdasarkan data dan sumber yang tersedia:

Harganya pun tidak main-main:
Luce dijual mulai dari sekitar €520.000 di Eropa—setara Rp12–15 miliar tergantung pajak. Ini bukan mobil “saya cuma mau coba EV”, ini mobil untuk yang ingin EV premium, Grand Tourer, dan Ferrari sekaligus.

Luce: Bukan Pengantar Pemakaman V12

Banyak yang menganggap Luce sebagai penanda kematian V12 Ferrari.
Ferrari sendiri membantahnya.
Luce justru dibentuk sebagai pasangan, bukan pengganti, untuk rangkaian mobil ICE yang masih hidup—SF90, 296, hypercar heritage, dan bahkan prototype konvensional.

Ia lahir dalam strategi multi‑energi:

V12 mungkin akan semakin jarang, tapi bisa tetap hidup di special series, limited run, atau Luce bisa jadi yang “menggantikan” tempatnya di hati generasi baru—tanpa harus membawa silika ke mesin. Ferrari Luce adalah sinyal bahwa emosi dan elektrifikasi bisa hidup bersama—tanpa satu pihak mengalah sehingga hilang identitasnya. Mengambil nama yang berarti “cahaya”, Luce membawa era baru di Maranello:

Ferrari tidak lagi hanya berbicara kepada mereka yang suka aroma knalpot. Untuk pertama kalinya, ia juga bicara kepada mereka yang suka tempo cepat, neural quietness, dan keindahan desain minimalis yang tetap ingin melaju cepat.

← Back to News